Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Lalu

Lalu pada tawa ia berpesan.,  Melantun pada setiap sapa adalah kewajiban mu..  Mengoyak setiap sepi pada rasa yang tak tersentuh..  Lalu pada sunyi ia berkata.,  Tidakkah engkau tabu pada khiasan sepi mu yang terobati tawa..  Lalu.. Mengolok-ngolok setiap sendumu, merobek segala sesalmu, yang pada rasa itu engkau nubuatkan..  Tatkala waktu mengusik segalanya, beranjaklah..  Setiap daripadanya hanya di beri satu kesempatan.. Lalu..?

Lalu Kita ?

Tak guna menyangka pada yang tertera Menelisik pada umpama umpama Mengira adanya adalah riak kegelisahan dari segala rasa yang terungkap Rupa rupanya hanya keberadaan Menuangkan segalanya pada keresahan Waktu..  Rindu..  Dan senyum sapa di sela sela temu.  Hari hari adalah diri dari sepi Sunyi..  Dan bunyi yang tak enyah dari jejak jejak hati Tak mengira pada waktu yang menamatkan harinya Kita hanya lupa harus mengakui itu Nyata adalah semburan harapan Pada setiap pertemuan.. Pengakuan.. Dan perjalanan.. Mula mulanya bersembunyi Hingga tak menggelisahkan hati  Rupa adalah keduanya Hingga pada saatnya tiba Kita adalah gelisah yang menamatkan waktu di setiap temu Tanpa kepalsuan itu..

Tentang Cinta dan Orange Yang Bercerita

Ingatlah aku, Padamu rumput yang terbentang luas Padamu serumpun bunga berduri Padamu pondasi setapak cinta Padamu yang ku sebut penampung rasa yang di lupakan – t4 sampah Padamu.. Padanya.. Pada mereka.. .. Ingatlah aku, Yang pernah mematahkan semangat tumbuhmu Yang pernag merobek-robek harapanmu untuk mekar Yang pernah menginjak-injak setumpuk cerita yang kau bentangkan pada sekian ruas jalan setapak cintamu Yang pernah kau antarkan pada sekian tumpuk rasa yang kian hari kian lenyap terbakar api kesunyian .. Ingatlah aku, Bahwa yang datang padamu kala itu dengan rasa ingin menantangmu Bahwa yang datang padamu kala itu dengan rasa ngin melenyapkanmu Bahwa yang datang padamu kala itu dengan rasa ingin melihatmu menderita Bahwa yang dating padamu kala itu hanyalah aku.. hanya aku.. dan aku.. .. Ingatlah aku, Hingga pada akhinya, itu sudah cukup untuk selusin cerita kita Untuk cerita yang aku anggap lenyap Untuk cerita yang aku anggap tak ...

[Puisi]“Ruas Benak (Ber-Cinta)”

Menyeru setiap titik perjalanan Menepi dalam diam, dengan sedikit gerak spontan Berusaha mengelabui waktu, dalam sunyi dengan sedikit pergolakan Serbu di balik jerumun.. Gerak meronta jari-jemari ia hentakan Mengupas sedikit demi sedikit balutan kesucian Hingga hening malam menghantarkannya dalam luapan Cinta itu ia suguhkan Hingga tak karuan Barulah, tetibanya di penghujung kenikmatan Berurailah segalanya dalam kesemrawutan keadaan Sungguh, Cinta itu kenikmatan Dalamnya ia adalah deraian rasa yang sungguh membingungkan _1997